Sunday, 12 February 2012

muslim marriage

                               


      
Marriage customs vary in Muslim dominated countries. Cultural customs are sometimes implemented under the cover of Islam. However Islamic law allows limited polygyny under strict conditions.
Islamic jurists have traditionally held that Muslim women may only enter into marriage with Muslim men,[70] On the other hand, the Qur'an allows Muslim men to marry women of the People of the Book, a term which includes Jews and Christians, but they must be chaste. However, fiqh law has held that it is makruh (reprehensible, though not outright forbidden) for a Muslim man to marry a non-Muslim woman in a non-Muslim country.      [70] Notable scholar Bilal Philips has said the verse that permits Muslim men to marry non-Muslim women is not valid anymore today due to several reasons including its misunderstood interpretation.[71] One explanation for marriage restrictions is that they are pursuant to the principle that Muslims may not place themselves in a position inferior to that of the followers of other religions.[72]
Marriage within some predominantly Muslim countries still retains practices from pre-Islamic times. Endogamy, virilocality and polygyny are practiced in some Islamic countries. In some countries, however, polygamy is outlawed or restricted by new family codes; for example the Moudawwana in Morocco.[73]Polygamy is permitted under restricted conditions,[74] but it is not widespread.[75] However, it is strongly discouraged in the Qur'an, which says, 'do justice to them all, but you won't be able to, so don't fall for one totally while ignoring other wife(wives)'. This also must be taken in historical context, as this was actually a restriction on the number of wives men of the Arabian tribes can take. Sometimes Pre-Islamic men had up to eight wives. Women are not allowed to engage in polyandry, whereas men are allowed to engage in polygyny.[74]
A marriage of pleasure, where a man pays a sum of money to a woman or her family in exchange for a temporary spousal relationship, is an ancient practice that has been revived in Iraq in recent years. Its practitioners cite sharia law as permitting the practice. Women's rights groups have condemned it as a form of legalized prostitution.[76] This type of marriage is strictly prohibited in Sunni Islam. [77]

muslim girl education




Historically, women played an important role in the foundation of many Islamic educational institutions, such as Fatima al-Fihri's founding of the University of Al Karaouine in 859 CE. This continued through to the Ayyubid dynasty in the 12th and 13th centuries, when 160 mosques and madrasahs were established in Damascus, 26 of which were funded by women through the Waqf (charitable trust or trust law) system. Half of all the royal patrons for these institutions were also women.[26]
According to the Sunni scholar Ibn Asakir in the 12th century, there were various opportunities for female education in what is known as the medieval Islamic world. He writes that women could study, earn ijazahs (academic degrees), and qualify as scholars (ulamā’) and teachers. This was especially the case for learned and scholarly families, who wanted to ensure the highest possible education for both their sons and daughters.[27] Ibn Asakir had himself studied under 80 different female teachers in his time. In nineteenth-century West Africa, Nana Asma’u was a leading Islamic scholar, poet, teacher and an exceptionally prolific Muslim female writer who wrote more than 60 works. Female education in the Islamic world was inspired by Muhammad's wives: Khadijah, a successful businesswoman, and Aisha, a renowned hadith scholar and military leader. The education allowed was often restricted to religious instruction. According to a hadith attributed to Muhammad, he praised the women of Medina because of their desire for religious knowledge:[28]
"How splendid were the women of the ansar; shame did not prevent them from becoming learned in the faith."
While it was not common for women to enroll as students in formal classes, it was common for women to attend informal lectures and study sessions at mosques, madrassas and other public places. For example, the attendance of women at the Fatimid "sessions of wisdom" (majālis al-ḥikma) was noted by various historians including Ibn al-Tuwayr and al-Muṣabbiḥī.[29] Similarly, although unusual in 15th-century Iran, both women and men were in attendance at the intellectual gatherings of the Ismailis where women were addressed directly by the Imam.[30]
While women accounted for no more than one percent of Islamic scholars prior to the 12th century, there was a large increase of female scholars after this. In the 15th century, Al-Sakhawi devotes an entire volume of his 12-volume biographical dictionary Daw al-lami to female scholars, giving information on 1,075 of them.[31]
Recently there have been several female Muslim scholars including Sebeca Zahra Hussain who is a prominent female scholar from the Sunni sect.

women in islam

The study of women in Islam investigates the role of women within the religion of Islam.[1] The complex relationship between women and Islam is defined by Islamic texts, the history and culture of the Muslim world.[2] The Qur'an states that both men and women are equal,[3][4][5] but also, as in 4:34, that "Men are the protectors and maintainers of women, because Allah has made one of them to excel the other, and because they spend from their means. Therefore the righteous women are devoutly obedient and guard in the husband's absence what Allah orders them to guard." Although the Quran does say this, the superiority of men is interpreted in terms of strength by the context - men maintain women.[6]
Sharia (Islamic law) provides for complementarianism,[7] differences between women's and men's roles, rights, and obligations. However neither the Quran nor Hadith mention women have to be housewives.[8][9][10] Majority Muslim countries give women varying degrees of rights with regards to marriage, divorce, civil rights, legal status, dress code, and education based on different interpretations. Scholars and other commentators vary as to whether they are just and whether they are a correct interpretation of religious imperatives.

             

Friday, 27 January 2012

azab wanita di neraka


Maka Rasullullah telah bersabda setelah pulangnya baginda dari Isra’ dan Mi’raj tentang perempuan yang dilihat menerima balasan perbuatan di dunia. Antaranya kejadian yang telah diperlihatkan oleh Allah swt kepada baginda saw ialah : 
1. Dan adapun perempuan yang tergantung dengan rambutnya dan mendidih otak kepalanya; maka bahawa sesungguhnya ia tiada mahu menutup rambutnya daripada lelaki yang haram memandang dia, 
2. Dan adapun perempuan yang tergantung dengan lidahnya dan api neraka yang sangat panas dituangkan ke dalam lehernya; maka bahawa sesungguhnya ia menyakiti suaminya. 
3. Dan adapun seorang perempuan yang tergantung dengan dua susunya dan buah zaqqum itu dituangkan masuk ke dalam lehernya; maka sesungguhnya ia memberikan air susu suaminya kepada bayi yang lain tanpa izin suaminya. 
4. Dan adapun perempuan yang yang tergantung dengan dua kakinya di dalam kerongkongan api nereka itu; maka bahawa sesungguhnya ia keluar rumah tanpa izin daripada suaminya. 
5. Dan adapun perempuan yang tergantung dan memakan ia akan tubuhnya dan api neraka dinyala-nyalakan daripada pihak bawahnya; maka bahawa sesungguhnya ia memperhiasi tubuhnya kerana orang lain dan tiada memperhiasi bagi suaminya. 
6. Dan adapun perempuan yang tergantung lagi menambat oleh segala malaikat akan dua kakinya kepada dua susunya dan ditambatkan dua susunya kepada ubun-ubunnya dan dijadikan atas badannya itu beberapa ekor ular dan kala hak keadaannya memakan ia(ular dan kala) akan dagingnya dan meminum ia akan darahnya; bahawa sesungguhnya ia di dalam dunia tidak bersuci badannya dan tidak mandi junub dan haid dan daripada nifas dan meringan-ringankan solat. 
7. Dan adapun perempuan yang tergantung hal keadaannya buta dan tuli dan kelu yang di dalam kerongkongan api neraka; maka bahawa sesungguhnya ia mendatangkan daripada anak zina dan ditambatkan kepada batang leher suaminya. (perempuan yang menduakan suaminya hingga mendapat anak zina dan dinyatakan anak itu adalah hasil daripada suaminya). 
8. Dan adapun perempuan yang tergantung kepalanya seperti kepala babi dan tubuhnya seperti tubuh keldai; maka sesungguhnya ia sangat mengadu-ngadu (batu api) lagi amat dusta. 
9. Dan adapun perempuan yang seperti rupa anjing dan api masuk ia ke dalam mulutnya dan keluar ia daripada duburnya; maka bahawa sesungguhnya ia adalah sangat membangkit akan manusia (mengungkit-ungkit pemberian atau pertolongan) lagi banyak dengki mendengki.

amalan wanita solehah


1. Mendirikan solat
Semua manusia yang sudah mencapai umur baligh diwajibkan keatasnya solat fardu lima waktu sehari semalam. Solat fardu dengan rajin  dan lakukannya solat sunat bagi menampung kekurangan yang terdapat pada solat wajib itu tadi.
2. Menjaga solatnya
Seseorang yang wajib solat dituntut juga khusyuk ketika menunaikan kewajipan itu. Selain khusyuk,menunaikan solat juga dituntut beristiqamah iaitu melakukan solat dengan berterusan mengerjakannya serta menjaga waktunya, ini bermaksud solat itu mesti diawal waktu dan tidak berlengah- lengah.
3. Bersyukur dan redha
Manusia ini biasa mempunyai tabiat yang buruk kerana apabila ditimpakan ujian atau musibah sering mengeluhdan adakalanya seperti menyalahkan takdir. Sebaiknya kita bersyukur dan redha dengan setiap pemberian Allah.
4. Selalu bersedekah
Murah hati adalah sifat yang mulia. Kehidupan akan menjadi indah dan bahagia apabila semua orang ada perasaan ingin saling bantu membantu sesama saudara seagama. Sehingga malikat berdoa agar orang yang rajin memberi sedekah itu Allagh S.W.T akan gantikan dangan ganjaran yang berlipat kali ganda.
5. Menjaga maruah diri
Untuk menjadi wanita solehah hendaklah wanita itu menjaga maruahnya dengan menutup aurat dengan betul.memelihara diri dan kehormatannya serta menjauhi perlakuan yang boleh mendorongnya  melakukan maksiat dan perbuatan keji.
6. Takut murka Allah
Wanita solehah sentiasa patuh kepadaajaran Allah dan menjauhi semua laranganNya. Walaupun  Allah tidak dapat dilihat tetapi sentiasa merasakan Allah itu maha melihat semua perbuatan hambaNya.
7. Menjaga amanah.
Sebagai wanita perlulah menjaga amanah yang telah dipikulkan ke atasnya seperti amanah menjadi seorang isteri, seorang ibu , seorang pekerja, seorang tertangga. Amanah kepada Allah seperti di dalam surah Al-Fatihah , ‘kepada Engkau kami menyembah dan kepada Engkau kami memohon pertolongan.
8. Pandai mengaji Al-Quran
Wanita solehah  selain solat, menjaga solatnya dengan istiqamah, menjaga amanah dan memelihara diri, mestilah juga tahun mengaji quran dan suka /sering menjadikan Quran itu sebagai sahabatnya. Sesungguhnya rumah yang tidak diperdengarkan alunan bacaan Quraan ibarat sebuah kubur.

1. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya
Bagaimana yang dikatakan taat kepada Allah s.w.t. ?
- Mencintai Allah s.w.t. dan Rasulullah s.a.w. melebihi dari segala-galanya.
- Wajib menutup aurat
- Tidak berhias dan berperangai seperti wanita jahiliah
- Tidak bermusafir atau bersama dengan lelaki dewasa kecuali ada mahram bersamanya
- Sering membantu lelaki dalam perkara kebenaran, kebajikan dan taqwa
- Berbuat baik kepada ibu & bapa
- Sentiasa bersedekah baik dalam keadaan susah ataupun senang
- Tidak berkhalwat dengan lelaki dewasa
- Bersikap baik terhadap tetangga

2. Taat kepada suami
- Memelihara kewajipan terhadap suami
- Sentiasa menyenangkan suami
- Menjaga kehormatan diri dan harta suaminya selama suami tiada di rumah
- Tidak bermasam muka di hadapan suami
- Tidak menolak ajakan suami untuk tidur
- Tidak keluar tanpa izin suami
- Tidak meninggikan suara melebihi suara suami
- Tidak membantah suaminya dalam kebenaran
- Tidak menerima tamu yang dibenci suaminya
- Sentiasa memelihara diri, kebersihan & kecantikannya serta rumah tangga
Faktor Yang Merendahkan Martabat Wanita
Sebenarnya puncak rendahnya martabat wanita adalah dari faktor dalaman. Bukanlah faktor luaran atau yang berbentuk material sebagaimana yang digembar-gemburkan oleh para pejuang hak-hak palsu wanita.
Faktor-faktor tersebut ialah:
1) Lupa mengingat Allah.
Kerana terlalu sibuk dengan tugas dan kegiatan luar atau memelihara anak-anak, maka tidak hairanlah jika banyak wanita yang tidak menyedari bahawa dirinya telah lalai dari mengingat Allah. Dan saat kelalaian ini pada hakikatnya merupakan saat yang paling berbahaya bagi diri mereka, di mana syaitan akan mengarahkan hawa nafsu agar memainkan peranannya.
Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-Jathiah, ayat 23: ertinya:
" Maka sudahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya. Dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya."
Sabda Rasulullah s.a.w.: ertinya:
"Tidak sempurna iman seseorang dari kamu, sehingga dia merasa cenderung kepada apa yang telah aku sampaikan." (Riwayat Tarmizi)
Mengingati Allah s.w.t. bukan saja dengan berzikir, tetapi termasuklah menghadiri majlis-majlis ilmu.
2) Mudah tertipu dengan keindahan dunia.
Keindahan dunia dan kemewahannya memang banyak menjebak wanita ke perangkapnya. Bukan itu saja, malahan syaitan dengan mudah memperalatkannya untuk menarik kaum lelaki agar sama-sama bergelumang dengan dosa dan noda. Tidak sedikit yang sanggup durhaka kepada Allah s.w.t. hanya kerana kenikmatan dunia yang terlalu sedikit.
Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-An'am: ertinya:
" Dan tidaklah penghidupan dunia ini melainkan permainan dan kelalaian dan sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, oleh kerana itu tidakkah kamu berfikir."
3) Mudah terpedaya dengan syahwat.
4) Lemah iman.
5) Bersikap suka menunjuk-nunjuk.
Sesungguhnya dunia ini adalah perhiasan; perhiasan dunia yang terbaik adalah wanita yang solehah.

wanita solehah lebih baik dari bidadari syurga


Wanita solehah tidak boleh sembarangan mencintai lelaki. Lelaki yang paling wajar dicintai oleh wanita solehah ialah Nabi Muhammad SAW. Ini kerana Nabi Muhammad SAW adalah pembela nasib kaum wanita. Baginda telah mengangkat martabat kaum wanita daripada diperlakukan dengan kehinaan pada zaman jahiliyah, khususnya oleh kaum lelaki.
Ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW juga berjaya menyempurnakan budi pekerti kaum lelaki. Ini membawa keuntungan kepada kaum wanita kerana mereka mendapat kebebasan dalam kawalan dan perlindungan keselamatan oleh kaum lelaki. Iaitu dengan mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW menjadikan bapa atau suami mereka berbuat baik dan bertanggungjawab ke atas keluarganya. Demikian juga dengan kedatangan Rasulullah SAW telah menjadikan anak-anak tidak lupa untuk berbakti kepada ibu mereka, cthnya seperti Uwais Al-Qarni.
Salah satu tanda kasih Baginda SAW terhadap kaum wanita ialah dengan berpesan kepada kaum lelaki agar berbuat baik kepada wanita, khususnya ahli keluarga mereka. Rasulullah SAW sendiri menjadikan diri dan keluarga baginda suri teladan kepada kaum lelaki untuk bagaimana berbuat baik dan memuliakan kaum wanita.
Rasulullah SAW bersabda,
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya, dan yang berbuat baik kepada ahli keluarganya.” (Riwayat Abu Daud dan Tirmizi)
Lagi sabda Rasulullah SAW,
“Sebaik-baik kamu adalah yang terbaik terhadap keluarganya; dan aku adalah yang terbaik dari kamu terhadap keluargaku. Orang yang memuliakan kaum wanita adalah orang yang mulia, dan orang yang menghina kaum wanita adalah orang yang tidak tahu budi.” (Riwayat Abu ‘Asakir)
Tapi betul ke wanita solehah itu lebih baik daripada bidadari syurga?
Daripada Umm Salamah, isteri Nabi SAW, katanya(di dalam sebuah hadis yang panjang):
Aku berkata, “Wahai Rasulullah! Adakah wanita di dunia lebih baik atau bidadari?”
Baginda menjawab, “Wanita di dunia lebih baik daripada bidadari sebagaimana yang zahir lebih baik daripada yang batin.”
Aku berkata, “Wahai Rasulullah! Bagaimanakah itu?”
Baginda menjawab, “Dengan solat, puasa dan ibadat mereka kepada Allah, Allah akan memakaikan muka-muka mereka dengan cahaya dan jasad mereka dengan sutera yang berwarna putih,berpakaian hijau dan berperhiasan kuning….(hingga akhir hadis)” (riwayat al-Tabrani)
Terkejut bila membaca hadis ni dan ingin berkongsi bersama rakan-rakan lain. Sungguh tinggi darjat wanita solehah, sehingga dikatakan lebih baik daripada bidadari syurga. Semoga hadis ini menjadi inspirasi bagi kita semua dalam memperbaiki diri agar menjadi lebih baik daripada bidadari syurga. InsyaAllah..
Tapi, bagaimana yang dikatakan wanita solehah itu?
Ikuti kisah berikut, semoga kita sama-sama beroleh pengajaran.
Seorang gadis kecil bertanya ayahnya “ayah ceritakanlah padaku perihal muslimah sejati?”
Si ayah pun menjawab “anakku,seorang muslimah sejati bukan dilihat dari kecantikan dan keayuan wajahnya semata-mata.wajahnya hanyalah satu peranan yang amat kecil,tetapi muslimah sejati dilihat dari kecantikan dan ketulusan hatinya yang tersembunyi.itulah yang terbaik”
Si ayah terus menyambung
“muslimah sejati juga tidak dilihat dari bentuk tubuh badannya yang mempersona,tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya yang mempersona itu.muslimah sejati bukanlah dilihat dari sebanyak mana kebaikan yang diberikannya ,tetapi dari keikhlasan ketika ia memberikan segala kebaikan itu.muslimah sejati bukanlah dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya bicarakan.muslimah sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa,tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara dan berhujah kebenaran”
Berdasarkan ayat 31,surah An Nurr,Abdullah ibn abbas dan lain-lainya berpendapat.Seseorang wanita islam hanya boleh mendedahkan wajah,dua tapak tangan dan cincinnya di hadapan lelaki yang bukan mahram(As syeikh said hawa di dalam kitabnya Al Asas fit Tasir)
“Janganlah perempuan -perempuan itu terlalu lunak dalam berbicara sehingga menghairahkan orang yang ada perasaan dalam hatinya,tetapi ucapkanlah perkataan yang baik-baik”(surah Al Ahzab:32)
“lantas apa lagi ayah?”sahut puteri kecil terus ingin tahu.
“ketahuilah muslimah sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian grand tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya melalui apa yang dipakainya.
Muslimah sejati bukan dilihat dari kekhuwatirannya digoda orang di tepi jalanan tetapi dilihat dari kekhuwatirannya dirinyalah yang mengundang orang tergoda.muslimah sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani tetapi dilihat dari sejauh mana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa redha dan kehambaan kepada TUHAN nya,dan ia sentiasa bersyukur dengan segala kurniaan yang diberi”
“dan ingatlah anakku muslimah sejati bukan dilihat dari sifat mesranya dalam bergaul tetapi dilihat dari sejauh mana ia mampu menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul”
Setelah itu si anak bertanya”Siapakah yang memiliki criteria seperti itu ayah?Bolehkah saya menjadi sepertinya?mampu dan layakkah saya ayah?”
Si ayah memberikan sebuah buku dan berkata”pelajarilah mereka!supaya kamu berjaya nanti.INSYA ALLAH kamu juga boleh menjadi muslimah sejati dan wanita yang solehah kelak,malah semua wanita boleh”
Si anak pun segera mengambil buku tersebut lalu terlihatlah sebaris perkataan berbunyi ISTERI RASULULLAH.
“Apabila seorang perempuan itu solat lima waktu ,puasa di bulan ramadhan ,menjaga kehormatannya dan mentaati suaminya,maka masuklah ia ke dalam syurga dari pintu-pintu yang ia kehendakinya”(riwayat Al Bazzar)